Osteoporosis
berasal dari kata osteo yang artinya
tulang, sedangkan porous berarti lubang.
Sering disebut juga sebagai silent disease, karena kadang-kadang tidak
memberikan tanda-tanda atau gejala sebelum patah tulang terjadi. Menurut WHO (1994), osteoporosis adalah suatu
penyakit yang ditandai dengan berkurangnya masa tulang dan menurunnya kekuatan
tulang yang berakibat pada meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko
terjadinya patah tulang.
Tulang
normal terdiri dari komposisi yang kompak dan padat, berbetuk bulat dan batang
padat serta terdapat jaringan berongga yang diisi oleh sumsum tulang. Tulang
ini merupakan jaringan yang terus berubah secara konstan dan terus
diperbaharui. Jaringan tua akan akan digantikan dengan jaringan tulang yang
baru. Proses ini dinamakan sebagai remodelling. Dalam remodelling ini
melibatkan sel osteoclast sebagai
perusak jaringan tulang dan sel osteoblast
sebagai pembentuk sel-sel tulang baru.
Menurut
data Puslitbang Gizi Depkes RI tahun 2006, angka prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) adalah 41,7% dan
prevalensi osteoporosis sebesar 10,3% yang berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia
berisiko terkena osteoporosis. Data lain dari hasil penelitian Persatuan
Osteoporosis Indonesia (Perosi) tahun 2006, menemukan dari 38% pasien yang
datang untuk memeriksa kepadatan (density)
tulang, di FKUI jakarta, terdeteksi 14,7% diantaranya menderita osteoporosis,
sementara di Surabaya sebanyak 26% positif osteoporosis. Angka dari Perosi ini
bisa diuraikan berdasarkan jenis kelamin, pada perempuan sebesar 32,3%
sedangkan pada laki-laki sebesar 28,8%. Selain itu data yang dikeluarkan
International Osteoporosis Foundation (IOF), diprediksikan pada tahun 2050
sebanyak 50% kasus patah tulang panggul akan terjadi di Asia.
Osteoporosis
dapat menyerang pria maupun wanita. Kondisi ini salah satu nya berkaitan dengan
asupan rendah kalsium, vitamin D, dan Fosfor. Pengaturan pola makan diperlukan
dalam upaya pencegahan osteoporosis. Untuk mencegah terjadinya osteoporosis,
sebaiknya menabung kalsium sejak dini. Suatu penelitian mengatakan bahwa
menabung kalsium pada waktu muda akan memperkuat tulang dan mengurangi resiko
patah tulang pada saat terjadi penuaan. Cara menabung kalsium adalah dengan
memenuhi kebutuhan kalsium setidaknya 900-1000 mg per hari.
Kecukupan
zat gizi membantu penyerapan kalsium dan menghalangi kehilangan beberapa zat
gizi dari tulang, khususnya vitamin D dan beberapa mineral mikro seperti
fosfor, mangan dan boron. Tanpa kecukupan zat gizi mikro tersebut, pertumbuhan
tulang akan lemah dan densitasnya rendah.
A.
Kalsium
Fungsi utama kalsium adalah mengisi kepadatan (densitas)
tulang. Kalsium di dalam tulang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai bagian
integral dari struktur tulang dan sebagai tempat penyimpanan kalsium. Asupan
kalsium yang mencukupi sejak awal kehidupan dapat memperkuat massa tulang,
mencegah pengaruh negatif dari berkurangnya keseimbangan kalsium, dan
mengurangi tingkat penurunan massa tulang pada tahun-tahun selanjutnya.
Cadangan kalsium tubuh terdapat dalam tulang. Jika
kekurangan kalsium, tubuh akan mengambil cadangan kalsium di bank tulang.
Semakin lama dan semakin banyak kalsium yang diambil, maka tulang akan semakin
tipis dan keropos. Massa tulang puncak adalah ketika seseorang berumur sampai
30 tahun. Setelah mencapai umur tersebut massa tulang menurun baik pada pria
maupun wanita. Pengurangan massa tulang ini akan berlangsung terus sepanjang
sisa hidup.
Sumber kalsium terbaik adalah susu dan produk olahannya
seperti yoghurt, es krim, keju, ikan yang dimakan bersama tulangnya (teri, sarden),
udang kering, kacang-kacangan dan produk olahannya (tempe, tahu), brokoli,
kangkung, caysim, sawi hijau, peterseli, asparagus, daun singkong, dan bayam.
Penelitian yang dilakukan oleh Tiaraputri dkk mengemukakan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dengan osteoporosis (p=
0,038). Sebuah studi lain menunjukkan
bahwa wanita dan pria yang mengkonsumsi kalsium 760 mg sehari lebih sedikit
mengalami patah tulang dibandingkan dengan orang yang hanya mengkonsumsi
kalsium sebanyak 400 mg
sehari.
B.
Vitamin
D
Vitamin D mampu memelihara kesehatan tulang dengan cara
meningkatkan penyerapan mineral kalsium dari sistem pencernaan serta mengurangi
pembuangannya dari ginjal. Vitamin D membantu proses pengerasan tulang dengan
cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia didalam darah untuk diendapkan
pada proses pengerasan tulang.
Berbeda dengan vitamin lainnya, vitamin D juga dapat
diperoleh tubuh melalui sinar matahari karena tubuh akan mensintesis vitamin D
ketika sinar ultraviolet menyentuh kulit. Bagi penduduk di daerah tropis
seperti di Indonesia umumnya tidak perlu khawatir karena sinar matahari
terdapat sepanjang hari. Sedangkan bagi penduduk di daerah non-tropis harus
mendapatkan sumber vitamin D dari konsumsi makanan. Makanan yang merupakan
sumber vitamin D adalah kuning telur, hati, ikan, minyak ikan, mentega, krim dan
sebagainya.
Kekurangan vitamin D umum terjadi pada lansia dan dapat
menyebabkan penurunan massa tulang. Jadi pastikan bahwa konsumsi makanan kita
telah cukup memenuhi kebutuhan vitamin D. Jika ingin berjemur sinar matahari,
sebaiknya dilakukan sebelum pukul 09.00 WIB dan dilakukan hanya 10-15 menit.
Menurut para ahli, waktu tersebut sudah cukup untuk sintesis vitamin D pada
kulit.
C.
Fosfor
Fosfor mempunyai fungsi dalam proses klasifikasi tulang
dan gigi, mengatur pengalihan energi, absorbsi dan transportasi zat gizi,
melalui pembentukan alat angkut zat gizi untuk menyeberangi membran sel dan
dalam aliran darah sebagai bagian dari ikatan tubuh esensial dan pengatur
keseimbangan asam basa cairan tubuh. Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan
pengendapan fosfor pada matriks tulang. Fosfor yang berikatan dengan kalsium
memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang.
Sumber utama fosfor yaitu makanan yang kaya protein
seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan
serta serealia.
D.
Mangan
dan Boron
Mineral lain yang berperan dalam pembentukan tulang
adalah mangan dan boron. Bila kecukupan zat gizi mangan terpenuhi, tubuh
seseorang akan lebih banyak menyerap kalsium dua kali lipat dari biasanya. Hal
ini menunjukkan bahwa peranan mangan sangat besar dalam penyerapan kalsium. Sumber
mangan yang baik adalah roti dari gandum utuh, coklat bubuk, nanas,
kacang-kacangan dan biji-bijian utuh.
Mineral boron mempunyai pengaruh terhadap metabolisme
mineral makro yang lain. Suplementasi boron pada wanita menopause dapat
mencegah kehilangan kalsium dan demeneralisasi tulang. Makanan yang banyak
mengandung boron adalah kacang-kacangan dan hasil olahannya (tahu,tempe
kedelai), susu, buncis, jagung, kentang, apel, tomat dan lain-lain.
E.
Kecukupan
Zat Gizi Mikro Pencegah Osteoporosis
Tabel
1. Angka kecukupan zat gizi mikro pencegah osteoporosis
|
Kelompok
Umur
|
Kalsium
(mg)
|
Vitamin
D (µg)
|
Fosfor
(mg)
|
Mangan
(mg)
|
|
1-9
tahun
|
500-600
|
5
|
400
|
1,2-1,7
|
|
10-18
tahun
|
1000
|
5
|
1000
|
1,6-2,3
|
|
19-49
tahun
|
800
|
5
|
600
|
1,8-2,3
|
|
50-64
tahun
|
800
|
10
|
600
|
1,8-2,3
|
|
65+
tahun
|
800
|
15
|
600
|
1,8-2,3
|
|
Ibu
hamil
|
+150
|
+0
|
+0
|
+0,2
|
|
Ibu
Menyusui
|
+150
|
+0
|
+0
|
+0,8
|
Sumber:
LIPI, PROSIDINGS ANGKA KECUKUPAN GIZI DAN
PELABELAN GIZI, 2004
F.
Saran
Selain dari faktor zat gizi mikro
diatas, ada beberapa faktor resiko lain yang mungkin akan menyebabkan
Osteoporosis. Anda mungkin berisiko untuk mengalami Osteoporosis jika mempunyai
salah satu faktor risiko berikut ini:
1.
Jenis
Kelamin
Osteoporosis
lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen
yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita
pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
2.
Usia
Seiring
dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh akan menurun. Pada usia 75-85
tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami
kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun.
3.
Berat
Badan / Status Gizi
Berat badan bisa berfungsi memberikan
perlindungan mekanis. Badan yang agak gemuk dapat memberikan beban berat setiap
hari pada tulang untuk mendorong pembentukan tulang, sama hal nya dengan
olahraga. Badan yang agak gemuk juga dapat mempermudah produksi hormone
esterogen dari jaringan lemak. Salah satu fungsi hormon esterogen adalah
membantu pembentukan sel osteoblast
dan mengurangi pembentukan sel osteoclast
yang berfungsi pada remodeling tulang.
Penelitian yang dilakukan oleh
Prihatini, Sri dkk menunjukkan bahwa status gizi kurus (IMT < 18,5)
mempunyai hubungan yang bermakna terhadap resiko osteoporosis dibandingkan
dengan orang yang ber IMT ≥ 18,5. Pada laki-laki beresiko osteoporosis 1,5 kali
dan pada perempuan 1,9 kali. Status Gizi seseorang berkaitan dengan simpanan
protein dan kalsium yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang.
4.
Ras/Suku
Ras
juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki
risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia
rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan
menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik
memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
5.
Merokok
Perokok
sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya berpengaruh buruk
dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Selain itu, nikotin juga membuat
kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga
susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
Disamping
itu, rokok juga membuat penghisapnya
bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah
ke seluruh tubuh. Jika darah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Saat
masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena
proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek
rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur
tersebut sudah berhenti.
6.
Kurang
berolahraga
Seseorang yang malas berolahraga akan terhambat proses osteoblastnya
(proses pembentukan massa tulang). Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot
akan memacu tulang untuk membentuk massa.
Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah dan
aman, serta sangat bermanfaat. Lakukanlah jalan kaki 20-30 menit, paling
sedikit tiga kali seminggu.dianjurkan berjalan lebih cepat dari biasa, disertai
ayunan lengan.
7.
Mengkonsumsi
alkohol dan kafein yang berlebihan
Minuman
berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh
dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari
creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan
hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein
lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses
pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang
menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblast).
8.
Penggunaan
obat-obatan seperti steroid, hormone tiroid dosis tinggi, obat jantung dsb.
Obat
kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma
dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering
dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid
menghambat proses osteoblast. Selain
itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis.
Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat
dan tidak merugikan tulang.
G.
Sumber
Referensi
1.
Roesma
S. Pencegahan Dini Osteoporosis: Pedoman Bagi Petugas UKS dan Guru Pendidikan
Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI; 2006.
2. Permana
H. Patomekanisme Osteoporosis Sekunder Akibat Steroid dan Kondisi Lainnya.
Bandung: Universitas Padjajaran Bandung; 2006.
3. International
Osteoporosis Foundation (IOF). The Asian Audit Epidemiology, Cost and Burden of
Osteoporosisin Asia; 2009. http://www.iofbonehealth.org. Diakses pada 24
Mei 2013.
4. Depkes
RI. Berdiri Tegak, Bicara Lantang, Kalahkan Osteoporosis; 2009 http://www.depkes.go.id. Diakses pada 24 Mei 2013.
5.
Cosman
F. Panduan Lengkap agar Tulang Anda Tetap Sehat. Yogyakarta: B-First; 2009.
6. Tiaraputri
RD, Susilo J, Kurdanti W. Hubungan antara Asupan Kalsium dan
Status Amenore dengan Densitas Massa Tulang Atlet Renang Wanita. Jurnal
Nutrisia 2013;15(1):1-5.
7. Wirakusumah E. Mencegah Osteoporosis
Lengkap dengan 39 Jus dan 38 Resep Makanan. Jakarta: Penebar Plus; 2007.
8. Prihatini S. Faktor
Determinan Resiko Osteoporosis di Tiga Provinsi di Indonesia. Media Litbang
Kesehatan 2010;20(2).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar