Rabu, 10 Agustus 2016

Kecukupan Zat Gizi Mikro (Kalsium, Vitamin D, Fosfor, Mangan dan Boron) Sebagai Pencegah Terjadinya Osteoporosis.

Osteoporosis berasal dari kata osteo yang artinya tulang, sedangkan porous berarti lubang. Sering disebut juga sebagai silent disease, karena kadang-kadang tidak memberikan tanda-tanda atau gejala sebelum patah tulang terjadi.  Menurut WHO (1994), osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya masa tulang dan menurunnya kekuatan tulang yang berakibat pada meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang.
Tulang normal terdiri dari komposisi yang kompak dan padat, berbetuk bulat dan batang padat serta terdapat jaringan berongga yang diisi oleh sumsum tulang. Tulang ini merupakan jaringan yang terus berubah secara konstan dan terus diperbaharui. Jaringan tua akan akan digantikan dengan jaringan tulang yang baru. Proses ini dinamakan sebagai remodelling. Dalam remodelling ini melibatkan sel osteoclast sebagai perusak jaringan tulang dan sel osteoblast sebagai pembentuk sel-sel tulang baru.
Menurut data Puslitbang Gizi Depkes RI tahun 2006, angka prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) adalah 41,7% dan prevalensi osteoporosis sebesar 10,3% yang berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko terkena osteoporosis. Data lain dari hasil penelitian Persatuan Osteoporosis Indonesia (Perosi) tahun 2006, menemukan dari 38% pasien yang datang untuk memeriksa kepadatan (density) tulang, di FKUI jakarta, terdeteksi 14,7% diantaranya menderita osteoporosis, sementara di Surabaya sebanyak 26% positif osteoporosis. Angka dari Perosi ini bisa diuraikan berdasarkan jenis kelamin, pada perempuan sebesar 32,3% sedangkan pada laki-laki sebesar 28,8%. Selain itu data yang dikeluarkan International Osteoporosis Foundation (IOF), diprediksikan pada tahun 2050 sebanyak 50% kasus patah tulang panggul akan terjadi di Asia.
Osteoporosis dapat menyerang pria maupun wanita. Kondisi ini salah satu nya berkaitan dengan asupan rendah kalsium, vitamin D, dan Fosfor. Pengaturan pola makan diperlukan dalam upaya pencegahan osteoporosis. Untuk mencegah terjadinya osteoporosis, sebaiknya menabung kalsium sejak dini. Suatu penelitian mengatakan bahwa menabung kalsium pada waktu muda akan memperkuat tulang dan mengurangi resiko patah tulang pada saat terjadi penuaan. Cara menabung kalsium adalah dengan memenuhi kebutuhan kalsium setidaknya 900-1000 mg per hari.
Kecukupan zat gizi membantu penyerapan kalsium dan menghalangi kehilangan beberapa zat gizi dari tulang, khususnya vitamin D dan beberapa mineral mikro seperti fosfor, mangan dan boron. Tanpa kecukupan zat gizi mikro tersebut, pertumbuhan tulang akan lemah dan densitasnya rendah.

A.     Kalsium
Fungsi utama kalsium adalah mengisi kepadatan (densitas) tulang. Kalsium di dalam tulang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat penyimpanan kalsium. Asupan kalsium yang mencukupi sejak awal kehidupan dapat memperkuat massa tulang, mencegah pengaruh negatif dari berkurangnya keseimbangan kalsium, dan mengurangi tingkat penurunan massa tulang pada tahun-tahun selanjutnya.
Cadangan kalsium tubuh terdapat dalam tulang. Jika kekurangan kalsium, tubuh akan mengambil cadangan kalsium di bank tulang. Semakin lama dan semakin banyak kalsium yang diambil, maka tulang akan semakin tipis dan keropos. Massa tulang puncak adalah ketika seseorang berumur sampai 30 tahun. Setelah mencapai umur tersebut massa tulang menurun baik pada pria maupun wanita. Pengurangan massa tulang ini akan berlangsung terus sepanjang sisa hidup.
Sumber kalsium terbaik adalah susu dan produk olahannya seperti yoghurt, es krim, keju, ikan yang dimakan bersama tulangnya (teri, sarden), udang kering, kacang-kacangan dan produk olahannya (tempe, tahu), brokoli, kangkung, caysim, sawi hijau, peterseli, asparagus, daun singkong, dan bayam.
Penelitian yang dilakukan oleh Tiaraputri dkk mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dengan osteoporosis (p= 0,038). Sebuah studi lain  menunjukkan bahwa wanita dan pria yang mengkonsumsi kalsium 760 mg sehari lebih sedikit mengalami patah tulang dibandingkan dengan orang yang hanya mengkonsumsi kalsium sebanyak 400 mg sehari.

B.     Vitamin D
Vitamin D mampu memelihara kesehatan tulang dengan cara meningkatkan penyerapan mineral kalsium dari sistem pencernaan serta mengurangi pembuangannya dari ginjal. Vitamin D membantu proses pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia didalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.
Berbeda dengan vitamin lainnya, vitamin D juga dapat diperoleh tubuh melalui sinar matahari karena tubuh akan mensintesis vitamin D ketika sinar ultraviolet menyentuh kulit. Bagi penduduk di daerah tropis seperti di Indonesia umumnya tidak perlu khawatir karena sinar matahari terdapat sepanjang hari. Sedangkan bagi penduduk di daerah non-tropis harus mendapatkan sumber vitamin D dari konsumsi makanan. Makanan yang merupakan sumber vitamin D adalah kuning telur, hati, ikan, minyak ikan, mentega, krim dan sebagainya.
Kekurangan vitamin D umum terjadi pada lansia dan dapat menyebabkan penurunan massa tulang. Jadi pastikan bahwa konsumsi makanan kita telah cukup memenuhi kebutuhan vitamin D. Jika ingin berjemur sinar matahari, sebaiknya dilakukan sebelum pukul 09.00 WIB dan dilakukan hanya 10-15 menit. Menurut para ahli, waktu tersebut sudah cukup untuk sintesis vitamin D pada kulit.

C.     Fosfor
Fosfor mempunyai fungsi dalam proses klasifikasi tulang dan gigi, mengatur pengalihan energi, absorbsi dan transportasi zat gizi, melalui pembentukan alat angkut zat gizi untuk menyeberangi membran sel dan dalam aliran darah sebagai bagian dari ikatan tubuh esensial dan pengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh. Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan pengendapan fosfor pada matriks tulang. Fosfor yang berikatan dengan kalsium memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang.
Sumber utama fosfor yaitu makanan yang kaya protein seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan serta serealia.

D.     Mangan dan Boron
Mineral lain yang berperan dalam pembentukan tulang adalah mangan dan boron. Bila kecukupan zat gizi mangan terpenuhi, tubuh seseorang akan lebih banyak menyerap kalsium dua kali lipat dari biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa peranan mangan sangat besar dalam penyerapan kalsium. Sumber mangan yang baik adalah roti dari gandum utuh, coklat bubuk, nanas, kacang-kacangan dan biji-bijian utuh.
Mineral boron mempunyai pengaruh terhadap metabolisme mineral makro yang lain. Suplementasi boron pada wanita menopause dapat mencegah kehilangan kalsium dan demeneralisasi tulang. Makanan yang banyak mengandung boron adalah kacang-kacangan dan hasil olahannya (tahu,tempe kedelai), susu, buncis, jagung, kentang, apel, tomat dan lain-lain.

E.     Kecukupan Zat Gizi Mikro Pencegah Osteoporosis

Tabel 1. Angka kecukupan zat gizi mikro pencegah osteoporosis
Kelompok Umur
Kalsium (mg)
Vitamin D (µg)
Fosfor (mg)
Mangan (mg)
1-9 tahun
500-600
5
400
1,2-1,7
10-18 tahun
1000
5
1000
1,6-2,3
19-49 tahun
800
5
600
1,8-2,3
50-64 tahun
800
10
600
1,8-2,3
65+ tahun
800
15
600
1,8-2,3
Ibu hamil
+150
+0
+0
+0,2
Ibu Menyusui
+150
+0
+0
+0,8
Sumber: LIPI, PROSIDINGS ANGKA KECUKUPAN GIZI DAN PELABELAN GIZI, 2004

F.     Saran
Selain dari faktor zat gizi mikro diatas, ada beberapa faktor resiko lain yang mungkin akan menyebabkan Osteoporosis. Anda mungkin berisiko untuk mengalami Osteoporosis jika mempunyai salah satu faktor risiko berikut ini:
1.      Jenis Kelamin
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
2.      Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh akan menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun.
3.      Berat Badan / Status Gizi
Berat badan bisa berfungsi memberikan perlindungan mekanis. Badan yang agak gemuk dapat memberikan beban berat setiap hari pada tulang untuk mendorong pembentukan tulang, sama hal nya dengan olahraga. Badan yang agak gemuk juga dapat mempermudah produksi hormone esterogen dari jaringan lemak. Salah satu fungsi hormon esterogen adalah membantu pembentukan sel osteoblast dan mengurangi pembentukan sel osteoclast yang berfungsi pada remodeling tulang.
Penelitian yang dilakukan oleh Prihatini, Sri dkk menunjukkan bahwa status gizi kurus (IMT < 18,5) mempunyai hubungan yang bermakna terhadap resiko osteoporosis dibandingkan dengan orang yang ber IMT ≥ 18,5. Pada laki-laki beresiko osteoporosis 1,5 kali dan pada perempuan 1,9 kali. Status Gizi seseorang berkaitan dengan simpanan protein dan kalsium yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang.
4.      Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
5.      Merokok
Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya berpengaruh buruk dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Selain itu, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Jika darah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.
6.      Kurang berolahraga
Seseorang yang malas berolahraga akan terhambat proses osteoblastnya (proses pembentukan massa tulang). Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah dan aman, serta sangat bermanfaat. Lakukanlah jalan kaki 20-30 menit, paling sedikit tiga kali seminggu.dianjurkan berjalan lebih cepat dari biasa, disertai ayunan lengan.
7.      Mengkonsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblast).
8.      Penggunaan obat-obatan seperti steroid, hormone tiroid dosis tinggi, obat jantung dsb.
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblast. Selain itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

G.    Sumber Referensi
1.     Roesma S. Pencegahan Dini Osteoporosis: Pedoman Bagi Petugas UKS dan Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI; 2006.
2.   Permana H. Patomekanisme Osteoporosis Sekunder Akibat Steroid dan Kondisi Lainnya. Bandung: Universitas Padjajaran Bandung; 2006.
3.    International Osteoporosis Foundation (IOF). The Asian Audit Epidemiology, Cost and Burden of Osteoporosisin Asia; 2009. http://www.iofbonehealth.org. Diakses pada 24 Mei 2013.
4. Depkes RI. Berdiri Tegak, Bicara Lantang, Kalahkan Osteoporosis; 2009 http://www.depkes.go.id. Diakses pada 24 Mei 2013.
5.     Cosman F. Panduan Lengkap agar Tulang Anda Tetap Sehat. Yogyakarta: B-First; 2009.
6.     Tiaraputri RD, Susilo J, Kurdanti W. Hubungan antara Asupan Kalsium dan Status Amenore dengan Densitas Massa Tulang Atlet Renang Wanita. Jurnal Nutrisia 2013;15(1):1-5.
7.    Wirakusumah E. Mencegah Osteoporosis Lengkap dengan 39 Jus dan 38 Resep Makanan. Jakarta: Penebar Plus; 2007.
8.  Prihatini S. Faktor Determinan Resiko Osteoporosis di Tiga Provinsi di Indonesia. Media Litbang Kesehatan 2010;20(2).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar