Jumat, 19 Agustus 2016

CARA PENGUKURAN BERAT BADAN

Bayi dan Balita
a.         Baby Scale
  1. Pengukuran berat badan bayi dapat dilakukan dengan menggunakan Baby Scale. Adapun cara pengukurannya yaitu sebagai berikut:
  2. Letakkan alat pada permukaan yang rata/bidang datar.
  3. Pastikan jarum penunjuk pada timbangan menunjuk pada angka nol.
  4. Usahakan bayi menggunakan pakaian seminimal mungkin.
  5. Letakkan bayi dengan hati-hati di bagian tengah timbangan.
  6. Tunggu sampai bayi tenang dan jarum timbangan konstan menunjukkan angka tertentu.
  7. Catat hasil penimbangan dengan ketelitian sampai satu angka desimal dan angkat bayi dari timbangan.


b.        Dacin
Pengukuran berat badan balita dapat dilakukan dengan menggunakan Dacin. Langkah-langkah penggunaan dacin yaitu:
  1. Gantungkan dacin pada dahan, palang rumah, atau penyangga kaki tiga (tripod).
  2. Periksa kembali apakah dacin sudah tergantung kuat dengan cara menarik batang dacin ke bawah kuat-kuat.
  3. Posisikan bandul geser pada angka nol.
  4. Berikan tali pengaman pada batang dacin agar tidak menciderai pengukur saat melakukan penimbangan.
  5. Pasang celana timbang/sarung timbang pada dacin. Pastikan bandul geser berada pada angka nol.
  6. Seimbangkan dacin yang sudah dipasang celana timbang dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastik dan ikatkan pada batang dacin.
  7. Timbang anak dengan pakaian yang seminimal mungkin dan seimbangkan dacin dengan menggeser bandul geser.
  8. Catat hasil penimbangan dengan cara melihat ujung bandul geser.
  9. Pindahkan bandul geser ke angka nol kembali, kemudian angkat anak dari sarung timbang.


Anak dan Dewasa
Pada anak usia lebih dari 5 tahun dan orang dewasa, pengukuran berat badan dapat dilakukan dengan menggunakan timbangan injak. Sebaiknya gunakan timbangan injak digital karena lebih akurat. Langkah-langkah penggunaan timbangan injak digital yaitu:
  1. Tempatkan timbangan injak pada permukaan yang rata, datar dan tidak licin.
  2. Injak timbangan hingga muncul angka nol.
  3. Usahakan memakai pakaian/aksesoris seminimal mungkin.
  4. Subyek berdiri pada timbangan tepat di tengah timbangan dengan pandangan lurus kedepan, tegak lurus dan tidak berpegangan.
  5. Tunggu sampai angka pada timbangan berhenti berkedip dan menunjukkan angka tertentu.
  6. Catat hasil penimbangan dan mintalah subyek untuk turun dari timbangan.
  7. Alat timbang akan mati secara otomatis. Untuk menimbang subyek selanjutnya, ulangi prosedur nomor 2 s/d 6.

Senin, 15 Agustus 2016

Fobia dengan Coklat? Kenali dulu Manfaatnya

Bagi sebagian orang mengkonsumsi coklat merupakan sebuah gaya hidup dan kegemaran, namun masih banyak orang takut mengonsumsinya. Cokelat dianggap dapat menaikkan berat badan dan menimbulkan jerawat serta merusak gigi. Para wanita sangat takut kelebihan berat badan dan jerawat pada wajah karena akan merusak penampilan mereka. Pada akhirnya mereka menghindari coklat yang dianggap dapat menyebabkan semua itu.

Para wanita sudah salah kaprah menilai makanan ini. Banyak penelitian tentang cokelat telah dilakukan. Penelitian tersebut memberikan hasil yang mengejutkan bahwa cokelat memiliki lebih banyak manfaat bagi tubuh manusia dibanding kerugiannya. Tak heran jika pecinta cokelat semakin banyak karena alasan manfaat cokelat yang baik bagi tubuh tersebut.

Coklat berasal dari biji buah pohon Kakao Theobromo. Biji ini kaya akan fitokimia, khususnya flavonoid. Flavonoid berperan sebagai antioksidan, menetralkan efek-efek buruk dari radikal bebas yang dapat menghancurkan sel-sel dan jaringan tubuh. Satu setengah ons batang coklat hitam memiliki 800 mg antioksidan.

Temuan baru menunjukkan bahwa flavonoid dan senyawa-senyawa tersebut penting bagi kesehatan. Selain itu Theobromin yang terkandung di dalam coklat bekerja sebagai stimulant ringan yang dapat menstimulasi sel saraf sehingga dapat menimbulkan perasaan nyaman dan secara ringan mengurangi stress. Sedangkan antioksidan memiliki manfaat melindungi tubuh dari radikal bebas.

Bagi penderita tekanan darah tinggi, efek coklat, terutama dark chocolate begitu luar biasa untuk mencegah serangan jantung dan stroke hingga 20%. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa coklat dapat menurunkan tekanan darah hingga 5 mm dalam tekanan sistolik. Sebanding dengan melakukan sejumlah aktifitas fisik seperti jalan cepat atau berenang selama 30 menit.

Konsumsi dalam jumlah tertentu setiap hari memang baik dan dianjurkan untuk mendapatkan manfaat antioksidan dan zat gizi lain yang terkandungnya, tapi harus diingat, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan berat badan. Untuk itu, pilihlah coklat sugar free atau batasi untuk tidak makan lebih dari 1 potong (sekitar 30 gram) coklat per hari.

Minggu, 14 Agustus 2016

Faktor Resiko yang berhubungan dengan Osteoartritis

Osteoartritis (OA) merupakan penyakit reumatik sendi yang paling banyak dijumpai terutama pada orang-orang diatas 40 tahun di seluruh penjuru dunia. Terjadinya OA berkaitan dengan usia lanjut, terutama pada sendi-sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban dan secara klinis ditandai dengan nyeri dan hambatan gerak. Sendi lutut merupakan sendi penopang berat badan yang sering terkena osteoarthritis.
Kellgren dan Lawrence melaporkan bahwa prevalensi terjadinya OA lutut adalah 40,7% pada perempuan dan 29,8% pada laki-laki dengan usia 55-64 tahun. Berikut adalah beberapa faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian osteoarthritis (OA):
  1. Usia. Peningkatan prevalensi OA sering dijumpai seiring dengan peningkatan usia.
  2. Jenis Kelamin. Perempuan beresiko 3.3 kali menderita OA lutut dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan pada wanita yang menopause mengalami penurunan esterogen alami yang berperan dalam meningkatkan resiko OA.
  3. Indeks Masa Tubuh. Obesitas merupakan faktor resiko yang kuat untuk perkembangan OA lutut, dengan kenaikan satu kilogram berat badan. Orang dengan IMT ≥ 25 (obesitas) beresiko 4.308 kali menderita OA lutut dibandingkan dengan orang kurus atau berat badan normal. Hal ini dikarenakan pada orang yang memiliki kelebihan berat badan terdapat beban mekanik yang lebih berat pada lututnya.
  4. Trauma, yaitu patah tulang yang mengenai permukaan sendi.
  5. Pekerjaan yang menimbulkan beban berulang pada sendi.
  6. Riwayat OA pada keluarga.
  7. Densitas (kepadatan) tulang yang rendah.

Sumber Referensi:
  1. Isbagio, H, Setiyohadi, B. 1995. Masalah dan Penanganan Osteoartritis Sendi Lutut. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran No. 104, hlm 8-12
  2. Powellm, A, Teichtahl, AJ, Wluka, AE, Cicuttini, FM. 2005. Obesity: a preventable risk factor for large joint osteoarthtritis which may act trought biomechanical factors. Br J Sports Med vol 39, pp 4-5
  3. Pratiwi, DM. 2009. Faktor Resiko Osteoartritis Lutut di RSU Dr. Soetomo Surabaya. Buletin Penelitian RSU Dr. Soetomo vol 11 No 2 hlm 95-100

Kamis, 11 Agustus 2016

RLPP SEBAGAI INDIKATOR DISLIPIDEMIA

Gaya hidup tak sehat seperti diet tinggi karbohidrat dan lemak jenuh, kurang serat, serta aktivitas fisik sehari-hari yang sangat sedikit akan menyebabkan terjadinya kelebihan lemak tubuh, terutama timbunan lemak abdomen. Penumpukan lemak abdomen, khususnya lemak visceral merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas. Kelebihan lemak tubuh dihubungkan dengan berbagai penyakit kronik dan degeneratif, salah satu nya adalah diabetes mellitus.
Semakin gemuk seseorang, maka ukuran lingkar pinggang dan panggul akan semakin membesar sehingga rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP) meningkat. Ambang batas RLPP untuk pria adalah < 0,9 dan untuk wanita < 0,85. Seseorang yang memiliki RLPP diatas ambang batang normal memiliki resiko lebih tinggi terkena dislipidemia. Manifestasi dislipidaemia adalah tingginya jenis kolesterol total dan tingginya kolesterol LDL serta rendahnya jenis kolesterol HDL.
Sebagai bukti dugaan tentang adanya kaitan antara lemak di dalam rongga perut yang dinyatakan dengan nilai RLPP dengan kadar kolesterol, maka telah dilakukan penelitian di Kota Surabaya. Hasilnya menyebutkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara RLPP dengan kolesterol LDL dan kolesterol total. Artinya, semakin tinggi nilai RLPP atau semakin banyak timbunan lemak di dalam rongga perut akan diikuti dengan tingginya kadar kolesterol LDL dan juga diikuti dengan meningkatnya kolesterol total.

Sumber Referensi:
  1. Pangkahila,  W.  2007.  Anti  Aging  Medicine:  Memperlambat  Penuaan  Meningkatkan Kualitas Hidup. Penerbit buku Kompas. Halaman 94-99.
  2. Popkin, B.M. 2005. Global nutrition dynamics: the world is shifting rapidly toward a diet linked with noncommunicable diseases. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 2, 289-298. Available from : http://www.ajcn.org/content/84/2/289.full?sid=c587e903-7369-4a7e-a348-a1c7ed678643. Accessed December 17th , 2012.
  3. Supariasa, dkk. 2002. Penelitian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Kecukupan Zat Gizi Mikro (Kalsium, Vitamin D, Fosfor, Mangan dan Boron) Sebagai Pencegah Terjadinya Osteoporosis.

Osteoporosis berasal dari kata osteo yang artinya tulang, sedangkan porous berarti lubang. Sering disebut juga sebagai silent disease, karena kadang-kadang tidak memberikan tanda-tanda atau gejala sebelum patah tulang terjadi.  Menurut WHO (1994), osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya masa tulang dan menurunnya kekuatan tulang yang berakibat pada meningkatnya kerapuhan tulang serta resiko terjadinya patah tulang.
Tulang normal terdiri dari komposisi yang kompak dan padat, berbetuk bulat dan batang padat serta terdapat jaringan berongga yang diisi oleh sumsum tulang. Tulang ini merupakan jaringan yang terus berubah secara konstan dan terus diperbaharui. Jaringan tua akan akan digantikan dengan jaringan tulang yang baru. Proses ini dinamakan sebagai remodelling. Dalam remodelling ini melibatkan sel osteoclast sebagai perusak jaringan tulang dan sel osteoblast sebagai pembentuk sel-sel tulang baru.
Menurut data Puslitbang Gizi Depkes RI tahun 2006, angka prevalensi osteopenia (osteoporosis dini) adalah 41,7% dan prevalensi osteoporosis sebesar 10,3% yang berarti 2 dari 5 penduduk Indonesia berisiko terkena osteoporosis. Data lain dari hasil penelitian Persatuan Osteoporosis Indonesia (Perosi) tahun 2006, menemukan dari 38% pasien yang datang untuk memeriksa kepadatan (density) tulang, di FKUI jakarta, terdeteksi 14,7% diantaranya menderita osteoporosis, sementara di Surabaya sebanyak 26% positif osteoporosis. Angka dari Perosi ini bisa diuraikan berdasarkan jenis kelamin, pada perempuan sebesar 32,3% sedangkan pada laki-laki sebesar 28,8%. Selain itu data yang dikeluarkan International Osteoporosis Foundation (IOF), diprediksikan pada tahun 2050 sebanyak 50% kasus patah tulang panggul akan terjadi di Asia.
Osteoporosis dapat menyerang pria maupun wanita. Kondisi ini salah satu nya berkaitan dengan asupan rendah kalsium, vitamin D, dan Fosfor. Pengaturan pola makan diperlukan dalam upaya pencegahan osteoporosis. Untuk mencegah terjadinya osteoporosis, sebaiknya menabung kalsium sejak dini. Suatu penelitian mengatakan bahwa menabung kalsium pada waktu muda akan memperkuat tulang dan mengurangi resiko patah tulang pada saat terjadi penuaan. Cara menabung kalsium adalah dengan memenuhi kebutuhan kalsium setidaknya 900-1000 mg per hari.
Kecukupan zat gizi membantu penyerapan kalsium dan menghalangi kehilangan beberapa zat gizi dari tulang, khususnya vitamin D dan beberapa mineral mikro seperti fosfor, mangan dan boron. Tanpa kecukupan zat gizi mikro tersebut, pertumbuhan tulang akan lemah dan densitasnya rendah.

A.     Kalsium
Fungsi utama kalsium adalah mengisi kepadatan (densitas) tulang. Kalsium di dalam tulang mempunyai dua fungsi yaitu sebagai bagian integral dari struktur tulang dan sebagai tempat penyimpanan kalsium. Asupan kalsium yang mencukupi sejak awal kehidupan dapat memperkuat massa tulang, mencegah pengaruh negatif dari berkurangnya keseimbangan kalsium, dan mengurangi tingkat penurunan massa tulang pada tahun-tahun selanjutnya.
Cadangan kalsium tubuh terdapat dalam tulang. Jika kekurangan kalsium, tubuh akan mengambil cadangan kalsium di bank tulang. Semakin lama dan semakin banyak kalsium yang diambil, maka tulang akan semakin tipis dan keropos. Massa tulang puncak adalah ketika seseorang berumur sampai 30 tahun. Setelah mencapai umur tersebut massa tulang menurun baik pada pria maupun wanita. Pengurangan massa tulang ini akan berlangsung terus sepanjang sisa hidup.
Sumber kalsium terbaik adalah susu dan produk olahannya seperti yoghurt, es krim, keju, ikan yang dimakan bersama tulangnya (teri, sarden), udang kering, kacang-kacangan dan produk olahannya (tempe, tahu), brokoli, kangkung, caysim, sawi hijau, peterseli, asparagus, daun singkong, dan bayam.
Penelitian yang dilakukan oleh Tiaraputri dkk mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara asupan kalsium dengan osteoporosis (p= 0,038). Sebuah studi lain  menunjukkan bahwa wanita dan pria yang mengkonsumsi kalsium 760 mg sehari lebih sedikit mengalami patah tulang dibandingkan dengan orang yang hanya mengkonsumsi kalsium sebanyak 400 mg sehari.

B.     Vitamin D
Vitamin D mampu memelihara kesehatan tulang dengan cara meningkatkan penyerapan mineral kalsium dari sistem pencernaan serta mengurangi pembuangannya dari ginjal. Vitamin D membantu proses pengerasan tulang dengan cara mengatur agar kalsium dan fosfor tersedia didalam darah untuk diendapkan pada proses pengerasan tulang.
Berbeda dengan vitamin lainnya, vitamin D juga dapat diperoleh tubuh melalui sinar matahari karena tubuh akan mensintesis vitamin D ketika sinar ultraviolet menyentuh kulit. Bagi penduduk di daerah tropis seperti di Indonesia umumnya tidak perlu khawatir karena sinar matahari terdapat sepanjang hari. Sedangkan bagi penduduk di daerah non-tropis harus mendapatkan sumber vitamin D dari konsumsi makanan. Makanan yang merupakan sumber vitamin D adalah kuning telur, hati, ikan, minyak ikan, mentega, krim dan sebagainya.
Kekurangan vitamin D umum terjadi pada lansia dan dapat menyebabkan penurunan massa tulang. Jadi pastikan bahwa konsumsi makanan kita telah cukup memenuhi kebutuhan vitamin D. Jika ingin berjemur sinar matahari, sebaiknya dilakukan sebelum pukul 09.00 WIB dan dilakukan hanya 10-15 menit. Menurut para ahli, waktu tersebut sudah cukup untuk sintesis vitamin D pada kulit.

C.     Fosfor
Fosfor mempunyai fungsi dalam proses klasifikasi tulang dan gigi, mengatur pengalihan energi, absorbsi dan transportasi zat gizi, melalui pembentukan alat angkut zat gizi untuk menyeberangi membran sel dan dalam aliran darah sebagai bagian dari ikatan tubuh esensial dan pengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh. Klasifikasi tulang dan gigi diawali dengan pengendapan fosfor pada matriks tulang. Fosfor yang berikatan dengan kalsium memberikan kekuatan dan kekakuan pada tulang.
Sumber utama fosfor yaitu makanan yang kaya protein seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan serta serealia.

D.     Mangan dan Boron
Mineral lain yang berperan dalam pembentukan tulang adalah mangan dan boron. Bila kecukupan zat gizi mangan terpenuhi, tubuh seseorang akan lebih banyak menyerap kalsium dua kali lipat dari biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa peranan mangan sangat besar dalam penyerapan kalsium. Sumber mangan yang baik adalah roti dari gandum utuh, coklat bubuk, nanas, kacang-kacangan dan biji-bijian utuh.
Mineral boron mempunyai pengaruh terhadap metabolisme mineral makro yang lain. Suplementasi boron pada wanita menopause dapat mencegah kehilangan kalsium dan demeneralisasi tulang. Makanan yang banyak mengandung boron adalah kacang-kacangan dan hasil olahannya (tahu,tempe kedelai), susu, buncis, jagung, kentang, apel, tomat dan lain-lain.

E.     Kecukupan Zat Gizi Mikro Pencegah Osteoporosis

Tabel 1. Angka kecukupan zat gizi mikro pencegah osteoporosis
Kelompok Umur
Kalsium (mg)
Vitamin D (µg)
Fosfor (mg)
Mangan (mg)
1-9 tahun
500-600
5
400
1,2-1,7
10-18 tahun
1000
5
1000
1,6-2,3
19-49 tahun
800
5
600
1,8-2,3
50-64 tahun
800
10
600
1,8-2,3
65+ tahun
800
15
600
1,8-2,3
Ibu hamil
+150
+0
+0
+0,2
Ibu Menyusui
+150
+0
+0
+0,8
Sumber: LIPI, PROSIDINGS ANGKA KECUKUPAN GIZI DAN PELABELAN GIZI, 2004

F.     Saran
Selain dari faktor zat gizi mikro diatas, ada beberapa faktor resiko lain yang mungkin akan menyebabkan Osteoporosis. Anda mungkin berisiko untuk mengalami Osteoporosis jika mempunyai salah satu faktor risiko berikut ini:
1.      Jenis Kelamin
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Selain itu, wanita pun mengalami menopause yang dapat terjadi pada usia 45 tahun.
2.      Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh akan menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun.
3.      Berat Badan / Status Gizi
Berat badan bisa berfungsi memberikan perlindungan mekanis. Badan yang agak gemuk dapat memberikan beban berat setiap hari pada tulang untuk mendorong pembentukan tulang, sama hal nya dengan olahraga. Badan yang agak gemuk juga dapat mempermudah produksi hormone esterogen dari jaringan lemak. Salah satu fungsi hormon esterogen adalah membantu pembentukan sel osteoblast dan mengurangi pembentukan sel osteoclast yang berfungsi pada remodeling tulang.
Penelitian yang dilakukan oleh Prihatini, Sri dkk menunjukkan bahwa status gizi kurus (IMT < 18,5) mempunyai hubungan yang bermakna terhadap resiko osteoporosis dibandingkan dengan orang yang ber IMT ≥ 18,5. Pada laki-laki beresiko osteoporosis 1,5 kali dan pada perempuan 1,9 kali. Status Gizi seseorang berkaitan dengan simpanan protein dan kalsium yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang.
4.      Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.
5.      Merokok
Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya berpengaruh buruk dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Selain itu, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.
Disamping itu, rokok juga membuat penghisapnya bisa mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan tersumbatnya aliran darah ke seluruh tubuh. Jika darah tersumbat, maka proses pembentukan tulang sulit terjadi. Saat masih berusia muda, efek nikotin pada tulang memang tidak akan terasa karena proses pembentuk tulang masih terus terjadi. Namun, saat melewati umur 35, efek rokok pada tulang akan mulai terasa, karena proses pembentukan pada umur tersebut sudah berhenti.
6.      Kurang berolahraga
Seseorang yang malas berolahraga akan terhambat proses osteoblastnya (proses pembentukan massa tulang). Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. Jalan kaki merupakan olahraga yang paling mudah, murah dan aman, serta sangat bermanfaat. Lakukanlah jalan kaki 20-30 menit, paling sedikit tiga kali seminggu.dianjurkan berjalan lebih cepat dari biasa, disertai ayunan lengan.
7.      Mengkonsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini dipertegas oleh Dr.Robert Heany dan Dr. Karen Rafferty dari creighton University Osteoporosis Research Centre di Nebraska yang menemukan hubungan antara minuman berkafein dengan keroposnya tulang. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblast).
8.      Penggunaan obat-obatan seperti steroid, hormone tiroid dosis tinggi, obat jantung dsb.
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblast. Selain itu, obat heparin dan anti kejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

G.    Sumber Referensi
1.      Roesma S. Pencegahan Dini Osteoporosis: Pedoman Bagi Petugas UKS dan Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Jakarta: Depkes RI; 2006.
2.   Permana H. Patomekanisme Osteoporosis Sekunder Akibat Steroid dan Kondisi Lainnya. Bandung: Universitas Padjajaran Bandung; 2006.
3.     International Osteoporosis Foundation (IOF). The Asian Audit Epidemiology, Cost and Burden of Osteoporosisin Asia; 2009. http://www.iofbonehealth.org. Diakses pada 24 Mei 2013.
4. Depkes RI. Berdiri Tegak, Bicara Lantang, Kalahkan Osteoporosis; 2009 http://www.depkes.go.id. Diakses pada 24 Mei 2013.
5.      Cosman F. Panduan Lengkap agar Tulang Anda Tetap Sehat. Yogyakarta: B-First; 2009.
6.     Tiaraputri RD, Susilo J, Kurdanti W. Hubungan antara Asupan Kalsium dan Status Amenore dengan Densitas Massa Tulang Atlet Renang Wanita. Jurnal Nutrisia 2013;15(1):1-5.
7.     Wirakusumah E. Mencegah Osteoporosis Lengkap dengan 39 Jus dan 38 Resep Makanan. Jakarta: Penebar Plus; 2007.
8.  Prihatini S. Faktor Determinan Resiko Osteoporosis di Tiga Provinsi di Indonesia. Media Litbang Kesehatan 2010;20(2).
A.      Pengertian
Makanan transgenik adalah bahan pangan yang telah diubah fenotipe dan genotipe­-nya dengan jalan rekayasa genetika.

Rekayasa genetika adalah penggunaan teknik biologi yang cermat untuk menata ulang gen dengan menyingkirkan, menambahkan atau menukar gen dari satu organisme ke organisme lain untuk mendapatkan jenis baru yang lebih baik dari sifat aslinya.

B.       Contoh Makanan Transgenik
1.    Tomat yang peka terhadap dingin
Gen antibeku ikan flounder (ikan yang dapat bertahan hidup pada perairan yang dingin) digunting dan direkatkan ke dalam untaian DNA tomat. Keturunan baru dari buahnya mampu bertahan terhadap kondisi beku. Hal ini berarti tomat ini memiliki musim tumbuh yang lebih lama karena bisa ditanam pada musim dingin sekalipun.
2.    Kentang Bt (bacillius thuringiensis)
Kentang Bt tahan terhadap cendawan dan nematode, sehingga mampu menekan pemakaian pestisida sehingga dapat menghemat pengeluaran.
3.    Be Com
Yaitu jagung yang dirancang mengandung protein insektisida yang berasal dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt).
4.    Kedelai yang rawan akan hama
Kedelai tersebut disisipi bakteri dari tanah yang mampu mengeluarkan pestisida alarni sehingga hama yang menyerang kedelai akan mati dengan sendirinya.
5.    Round Up Ready R Soybean.
Yaitu kedelai yang toleran terhadap senyawa aktif glifosat yang terdapat dalarn herbisida yang dikenal secara komersial sebagai Round-Up R
6.    Glyphosattolerant Com Line GA2l
Yaitu jagung yang toleran glifosat.
7.    Beras golden  rice.
Yaitu beras yang disisipi gen untuk memproduksi beta karoten sehingga meningkatkan nilai nutrisi beras.
Penelitian terakhir pada 18 Oktober 2005, YLKI bekerja sama dengan PT. Saraswati Indogenetech melakukan serangkaian pengujian. Dilakukan secara kualitatif dengan metode PCR (polymerase chain reaction), dengan batas deteksi 0,05%. Hasil uji menunjukkan, 3 dari 11 sampel yang diuji (27%) memakai bahan hasil rekayasa genetik, yaitu:
1.       Keripik kentang Mister Potato, produksi PT. Pasific Food Indonesia. No Depkes BPOM RI ML 255501031081.
2.       Keripik kentang Pringles, diimpor oleh PT. Procter & Gamble Home Products Indonesia. No. Depkes BPOM RI ML 362204007321.
3.         Tepung jagung Honig Maizena, diimpor oleh Fa. Usahana. No Depkes ML 328002001014.
YLKI juga melakukan serangkaian uji coba pada 2002. Sampel yang diambil merupakan produk pangan turunan kedelai dan jagung. Pengambilan sampel dilakukan secara acak di beberapa supermarket, hipermarket, dan pasar tradisional di Jakarta dengan jumlah sampel 25 (18 pangan turunan kedelai dan 7 pangan turunan jagung). Waktu pengambilan sampel hingga kontak produsen: September ­ Desember 2002. Pengujian dilakukan secara kualitatif dan dengan metode PCR dengan batas deteksi 0,05%. Hasilnya menunjukkan, 10 dari 18 pangan turunan kedelai (55,56%) positif mengandung rekayasa genetika, terdiri atas tahu, tempe, dan susu kedelai. Lalu 1 dari 7 turunan pangan jagung (14,29%) positif mengandung GMO. Sayangnya tidak ada label transgenik/GMO pada produk-produk tersebut.

C.       Keunggulan Tanaman Transgenik
1.         Dari aspek pertanian (agriculteure) dapat meningkatkan hasil atau produksi.
2.         Dari aspek lingkungan dapat mengurangi penggunaan pestisida, herbisida.
3.         Dari aspek gizi mampu meningkatkan kualitas bahan makanan.
4.         Dari aspek kesehatan mampu mencegah penyakit yang menyebar melalui makanan seperti vaksin-vaksin.
5.         Untuk mendeteksi makanan yang dihasilkan dari transgenik biasanya dilakukan dengan metode uji ELISA (ImmunoSorbent Enzym Linked Assay) dan uji DNA. Teknik uji ELISA biayanya lebih murah dibanding dengan uji DNA, menawarkan hasil lebih cepat dan dapat dilaksanakan di tempat.
6.         Tanaman transgenik juga dimanfaatkan dalam bidang kesehatan masyarakat.
-          Melalui keberhasilan menyisipkan gen insulin manusia (humulin) ke dalam bakteri yang kemudian disisipkan ke sel tanaman kacang-kacangan sehingga memungkinkan tanaman tersebut menjadi penghasil insulin yang bermanfaat untuk pengobatan diabetes.
-       Keberhasilan pemenuhan vitamin A dari beras emas (golden rice). Beras emas adalah beras dari tanaman padi yang telah disisipi 3 gen dari tanaman daffodil dan bakteri. Ketiga gen sisipan tersebut membuat beras emas mampu memproduksi enzim yang menyebabkan beras dapat membentuk beta-carotene, yang di dalam tubuh manusia dapat dikonversi menjadi vitamin A.
-    Dihasilkan produk transgenik yang bernilai gizi lebih tinggi daripada tanaman asli, misalnya tomat, labu, dan kentang, yang mengandung kadar vitamin A, C, dan E yang tinggi; jagung dan kedelai, yang mengandung lebih banyak asam amino esensial; kentang dengan kadar pati yang lebih tinggi serta mempunyai kemampuan menyerap lemak yang lebih rendah; daun bawang dengan kandungan allicin (bahan yang berkhasiat menurunkan kolesterol) yang lebih banyak; padi dengan kandungan vitamin A yang tinggi dan padi yang mengandung zat besi; bahkan pisang yang mengandung vaksin.

D.      Dampak dan Resiko
1.      Segi Pertanian
·         Hasil panen lebih rendah.
·         Biaya produksi lebih tinggi.
·         Peningkatan penggunaan bahan kimia pertanian.
·         Kontrak paten.
·         Hilangnya varietas lokal.
·         Memicu pertanian monokultur yang tidak berkelanjutan.
·         Hilanngnya penyemprotan Bt (bacillus thuringiensis).
·         Hama menjadi kebal.
2.      Segi Konsumen
·         Keracunan makanan transgenic.
·         Meningkatnya resiko kanker.
·         Rusaknya kandungan gizi dan kualitas makanan.
·         Kekebalan bibit penyakit terhadap antibioka.
·         Meningkatnya kandungan residu pestisida pada makanan.
3.      Segi Lingkungan
·         Polusi genetika.
·         Dampak negatif terhadap ekologi tanah.
·         Gulma super.
·         Hama super.
·         Virus tanaman baru yang lebih berbahaya.
·         Dampak terhadap serangga dan hewan yang tidak mengganggu.
·         Hilangnya keanekaragaman hayati.
·         Efek negatif terhadap ekologi hutan yang ditanami pohon transgenik.
4.      Segi Ekonomi
·         Diperkirakan bebahaya, beberapa negara telah mengatur dan menolak produk transgenik dan menutup pasar ekspor produk transenik.
·         Harga produk non-transgenik lebih kompetitif di pasar internasional.
·         Perusahaan transgenik memonopoi sistem produksi pangan.
·         Perubahan pasar internasional atas produk minyak pangan.

E.       Uji Keamanan
Seperangkat peraturan dan kebijakan terkait dengan pangan produk rekayasa genetic telah dikeluarkan pemerintah Indonesia, antara lain:
1.         UU RI No. 7 tahun 1996 tentang pangan.
2.         PP RI No. 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan.
3.       UU RI No. 21 tahun 2004 tentang protokol Cartagena tentang keamanan hayati atas konvensi tentang keanekaragaman hayati.
4.         PP No. 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan.
5.         PP No. 21 tahun 2005 tentang keamanan hayati produk rekayasa genetika.
6.         SKB Komisi Keamanan Hayati.
Serangkaian uji pangan yang harus dilakukan untuk membuktikan keamanannya, yaitu:
1.         Uji alergisitas, untuk mengetahui ada tidaknya zat pemicu alergi.
2.         Uji toksisitas untuk melihat adakah racun pada pangan.
3.         Uji imunitas apakah pangan itu membahayakan daya tahan tubuh atau tidak.
4.         Uji lain yang mendukung.

F.        Aspek Pertimbangan dan Penggunaannya
1.         Pertimbangan Bioetika.
Setinggi apapun keilmuan dan keinginan kita untuk mengembangkan ilmu, masih ada tanggung jawab moral kita yang harus diemban terhadap umat manusia dan lingkungan (alam). Masih banyak pro dan kontra yang berkaitan dengan penggunaan tanaman transgenik yang berkaitan dengan bidang kesehatan, lingkungan, ekonomi, budaya dan politik. Hal tersebut hendaknya menjadikan ilmuwan menjadi arif dalam menyikapi penggunaan tanaman transgenik ini.
2.         Pertimbangan Filsafat.
Proses pembuatan tanaman transgenik sebelum dilepas ke masyarakat telah melalui hasil penelitian yang panjang, studi kelayakan dan uji lapangan dengan pengawasan yang ketat, termasuk melalui analisis dampak lingkungan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Berdasarkan pendapat kelompok masyarakat yang pro dan kontra tanaman transgenik memiliki manfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk, tetapi manfaat tersebut belum teruji, apakah lebih besar manfaatnya atau kerugiannya. Secara filsafat masalah ini perlu dikaji lebih lanjut.
3.         Pertimbangan Hukum.
Food and Drug Administration (FDA) yang menangani khusus masalah tanaman transgenik membuat pedoman keamanan pangan yang bertujuan untuk memberikan kepastian bahwa produk baru (termasuk yang berasal dari hasil rekayasa genetika) sebelum dikomersialkan produk tersebut harus aman untuk dikonsumsi dan masalah keamanan pangan harus dikendalikan dengan baik. Food and Agriculture Organization (FAO) memberikan beberapa petunjuk dan rekomendasi mengenai bioteknologi dan keamanan pangan, yaitu peraturan mengenai keamanan pangan yang komprehensif dan diterapkan dengan baik merupakan hal yang penting untuk melindungi kesehatan konsumen dimana semua negara harus dapat menempatkan peraturan tersebut seimbang dengan perkembangan teknologi.
4.         Pertimbangan Sosial Budaya
Produk rekayasa genetik yang dipatenkan oleh perusahaan (industri besar) dan diklaim dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan petani, sebaliknya justru berpotensi untuk meningkatkan kelaparan dan kemiskinan petani karena hak paten yang dilakukan akan membuat petani sulit mengakses benihnya. Semua harus dibayar mahal akibat ada royaltinya. Kemiskinan dan kelaparan lebih merupakan dampak ketimpangan konsumsi antara negara kaya dan miskin. Dari segi politik, tanaman transgenik yang banyak dikembangkan di negara maju yang memiliki tingkat teknologi lebih tinggi membuat masyarakat di negara agraris yang sebagian besar adalah negara berkembang (developing countries) memiliki ketergantungan yang sangat besar pada negara maju. Selain itu, perdebatan masyarakat dalam menggunakan tanaman transgenik juga berkaitan dengan adanya kearifan lokal terhadap penjagaan plasma nutfah di lokal daerahnya. Manusia merupakan bagian dari ekosistem. Dan seperti halnya spesies lain, manusia merupakan obyek dari hukum-hukum alam yang tidak akan pernah berubah. Nilai moral inilah yang menyebabkan manusia sangat menjaga hubungannya dengan alam sekitar. Pada hakekatnya perbuatan yang membahayakan eksistensi alam, akan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri.
5.         Pertimbangan Agama.
-          Bagi pemeluk agama Islam
Kasus penyedap rasa (monosodium glutamat) yang diproduksi dengan menggunakan enzim yang diisolasi dari gen babi pada awal tahun 2001 yang dikategorikan sebagai haram. Adapun MUI sendiri belum mengeluarkan fatwa mengenai penggunaan tanaman transgenik, namun prinsip kehati-hatian selalu diutamakan. Status GMO akan halal sepanjang sumber gen dan seluruh proses rekayasanya halal.


-          Bagi pemeluk agama Hindu
Tanaman transgenik salah satunya disinyalir dapat menyebabkan terputusnya rantai ekosistem karena sifatnya yang resisten, ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan. Ketidakseimbangan lingkungan atau terganggunya homeostasis sangat bertentangan dengan konsep “Tri Hita Karana“ yaitu suatu konsep yang merupakan ajaran dalam agama Hindu yang pada prinsipnya mengajarkan adaya keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Ini berarti ada tingkat tropik tertentu yang mati atau berkurang, dengan demikian berarti membunuh organisme tertentu yang tidak diharapkan. Ini juga bertentangan dengan konsep ajaran “Ahimsa“ dalam agama Hindu yang berarti tidak boleh membunuh organisme secara sembarangan tanpa tujuan yang jelas, apalagi dapat menyebabkan gangguan keseimbangan lingkungan yang akan membawa malapetaka dan bencana bagi umat manusia.
-          Bagi pemeluk agama Yahudi
Agama Yahudi mensyaratkan pemeluknya untuk mengkonsumsi makanan yang kosher (Kosher law), mengijinkan penyisipan gen dari sumber makanan yang non-kosher sepanjang tidak merubah rasa dan penampakan.

G.      Cara Untuk Menghindari Makanan Transgenik
1.         Hanya membeli bahan makanan yang organik.
2.         Hanya membeli produk-produk yang mencamtumkan label Non GMO.
3.         Cari informasi sebanyak-banyaknya produsen yang mensuplai makanan yang sangat berpotensi GMO sebelum mengkonsumsi atau menggunakanya.
4.    Saat ini, satu-satunya tanaman AS ditanam secara komersial dari biji transgenik: alfalfa, canola, jagung, kapas, pepaya Hawaii, kedelai, gula bit, musim panas kuning, squash dan zucchini.
5.    Sebagian besar produk segar adalah non-transgenik, tetapi jagung manis, pepaya hawaii, edamame, zucchini dan squash kuning adalah item produk saat ini yang ditanam secara komersial dari GMO seed.
6.         Lima tanaman transgenik yang paling umum dari jagung, kanola, kedelai, kapas dan gula bit berakhir sebagai aditif dalam semua jenis makanan kemasan sebagai sirup jagung, minyak, gula, penyedap masakan, pengental dan zat aditif lainnya. Lebih dari 70% dari produk makanan dalam kemasan di Amerika Utara mengandung GMO. Pilih organik atau Non-GMO Proyek Verified.
7.      Susu, keju, telur, daging sapi, ayam dan babi semua bisa dari hewan yang diberi makan pakan transgenik. Pilih organik atau Non-GMO Proyek Verified.
8.    Beberapa ikan budidaya makan pakan transgenik. Pilih makanan laut liar hasil tangkapan nelayan atau petani tiram, kerang dan kerang yang tidak diberi pakan tambahan.
9.   Sebagian besar buah-buahan dan sayuran beku yang non-transgenik. Buah-buahan dan sayuran beku tanpa aditif baik pilihan non-transgenik kecuali dari salah satu dari lima tanaman berisiko tinggi: jagung manis, pepaya Hawaii, edamame, zucchini dan squash kuning. Pilih organik atau Non-GMO Project Verified.
10.     Selama menghindari jagung dan kedelai, memilih kacang kering dan biji-bijian, adalah non-GMO.
11.   Semua anggur dan bir berlabel baik “organik” atau “dibuat dengan organik” atau “Non-GMO Project Verified” harus menggunakan ragi non-transgenik. Anggur dan biji-bijian yang digunakan untuk membuat bir biasanya tidak GMO.

H.      Kebijakan Pemerintah
1.   Mengadakan moratorium atas  impor, penjualan dan pelepasan  makanan  dan produk transgenik  hingga ada peraturan yang jelas dan ada bukti keamanannya,
2.         Menyusun Undang-undang keamanan hayati dan pangan,
3.         Meratifikasi protokol Cartagena, menyusun peraturan pelaksanaannya dengan menggunakan protokol tersebut  sebagai  standar minimum,
4.  Mengadakan dialog vertikal dan horizontal untuk mengambil keputusan tentang arah kebijakan pengawasan riset, uji coba, pelepasan, penggunaan dan monitoring produk transgenik,
5.         Memberlakukan sistem label.
6.    Menyusun data base produk dan uji coba produk transgenik  yang ada di Indonesia dan menyebarkan informasi  tersebut ke publik.

REFERENSI:
1.    Karmana, IW. Adopsi Tanaman Transgenik dan Beberapa Aspek Pertimbangannya. Mataram: GaneƇ Swara 2009;3(2):12-21.
2.        Badan POM RI. Pangan Produk Rekayasa Genetika dan Pengkajian Keamanannya di Indonesia. Jakarta: INFOPOM 2010;11(1):1-5.
3.      Agustini NP. Aspek Keamanan Genetically Modified Food (GMF). Denpasar: Jurnal Ilmu Gizi 2011;2(1):27-36
4.   Brandner DL. Detection of Genetically Modified Food: Has Your Food Been Genetically Modified? The American Biology Teacher 2002;64(6):433-42.
5.   Fatmawati. Bioetika Dalam Pemanfaatan Keanekaragaman Plasma Nutfah Tumbuhan. 2002. http://tumoutou.net/702_05123/group4_123.htm. Tanggal akses: 09 November 2015.
6.   Cahyadi F. Dampak Lingkungan Tanaman Transgenik. 2006. http://www.satudunia.net/node/1178. Tanggal akses: 09 November 2015.
7.    Muladno. Seputar Teknologi Rekayasa Genetika. Bogor: Pustaka  Wirausaha Muda; 2002.